GREENEVA Berbagi Perspektif Strategis untuk Memperkuat Peta Jalan Resiliensi Jawa Tengah 2025–2045

22 Juli 2026 | By. Greeneva

Perubahan iklim tidak lagi menjadi tantangan yang akan dihadapi di masa depan, tetapi telah menjadi faktor yang memengaruhi arah pembangunan daerah saat ini. Meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi, perubahan pola curah hujan, kenaikan suhu, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan, sumber daya air, dan infrastruktur menuntut pemerintah daerah untuk menyusun kebijakan yang tidak hanya responsif terhadap kondisi saat ini, tetapi juga mampu mengantisipasi risiko iklim di masa mendatang.

Sejalan dengan upaya tersebut, pemerintah terus memperkuat perencanaan aksi iklim di tingkat daerah sebagai bagian dari pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) nasional. Melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 1871 Tahun 2026 tentang Peta Jalan Sub Nasional Target Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional, Direktorat Mitigasi Perubahan Iklim melaksanakan rangkaian kunjungan ke berbagai provinsi di Region Jawa pada 13–18 Juli 2026 untuk meninjau perkembangan penyempurnaan dokumen Peta Jalan Reduksi Emisi GRK Tingkat Sub Nasional.

Dalam rangkaian tersebut, Provinsi Jawa Tengah menjadi salah satu daerah yang dikunjungi pada 15 Juli 2026. Bertepatan dengan agenda tersebut, diselenggarakan Konsultasi Publik Peta Jalan Resiliensi terhadap Bencana dan Perubahan Iklim Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025–2045 sebagai ruang diskusi untuk menghimpun masukan terhadap arah kebijakan, strategi, target, dan rencana aksi pembangunan daerah yang berketahanan. Forum ini mempertemukan perangkat daerah, akademisi, mitra pembangunan, pelaku usaha, serta organisasi masyarakat sipil dalam proses penyempurnaan roadmap.

Dalam forum tersebut, Ir. Ratna Budiarti, Direktur GREENEVA, hadir sebagai narasumber yang membagikan perspektif strategis mengenai penyusunan roadmap yang berbasis risiko iklim, terintegrasi dengan sistem perencanaan daerah, serta mampu mendukung pembangunan yang rendah karbon dan berketahanan.

Membangun Roadmap yang Berbasis Risiko Iklim dan Terintegrasi

Salah satu gagasan utama yang disampaikan GREENEVA adalah pentingnya mengubah paradigma perencanaan pembangunan dari pendekatan yang berorientasi pada kondisi saat ini menjadi pendekatan yang mempertimbangkan future climate risk atau risiko iklim di masa mendatang. Perubahan iklim diproyeksikan akan memengaruhi karakteristik berbagai ancaman, baik dari sisi frekuensi maupun intensitas. Oleh karena itu, penyusunan roadmap perlu memanfaatkan data proyeksi iklim sebagai dasar dalam mengidentifikasi risiko, menentukan prioritas pembangunan, menyusun strategi implementasi, hingga menetapkan indikator keberhasilan. Dengan pendekatan tersebut, roadmap tidak hanya mampu menjawab tantangan saat ini, tetapi juga lebih adaptif terhadap dinamika risiko di masa depan.

Pendekatan tersebut perlu didukung oleh evidence base yang kuat. GREENEVA menekankan pentingnya menjadikan kajian risiko bencana, data proyeksi iklim, inventarisasi emisi, serta berbagai dokumen perencanaan yang telah tersedia sebagai satu kesatuan dasar pengambilan keputusan. Dengan demikian, penyusunan kebijakan tidak hanya berlandaskan data yang akurat, tetapi juga mampu menghasilkan arah pembangunan yang lebih konsisten, terukur, dan berorientasi jangka panjang.

Selain berbasis data, pembangunan daerah yang berketahanan juga memerlukan pendekatan yang terintegrasi. GREENEVA menggarisbawahi bahwa mitigasi perubahan iklim, adaptasi perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, serta pengelolaan risiko amblesan tanah tidak dapat dipandang sebagai agenda yang berjalan sendiri-sendiri. Keempat aspek tersebut saling berkaitan dan perlu dirancang dalam satu kerangka kebijakan agar setiap intervensi mampu memberikan manfaat yang lebih luas, baik dalam menurunkan emisi maupun meningkatkan ketahanan masyarakat, infrastruktur, dan ekosistem terhadap berbagai risiko di masa depan.

GREENEVA juga menyoroti pentingnya memastikan roadmap memiliki keterkaitan yang kuat dengan sistem perencanaan pembangunan daerah. Roadmap tidak seharusnya menjadi dokumen yang berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan berbagai dokumen perencanaan yang telah ada melalui penggunaan baseline data yang sama, sinkronisasi target dan indikator, penyusunan prioritas berbasis risiko, serta penguatan sistem monitoring dan evaluasi yang terintegrasi. Dengan demikian, roadmap dapat menjadi instrumen yang tidak hanya memberikan arah kebijakan, tetapi juga memastikan implementasi yang lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.

Menuju Pembangunan Daerah yang Rendah Karbon dan Berketahanan

Dalam paparannya, GREENEVA turut membagikan pandangan mengenai arah transformasi menuju pembangunan rendah karbon yang tidak berhenti pada penetapan target penurunan emisi. Roadmap perlu dirancang sebagai instrumen implementasi yang menghubungkan kebijakan, inventarisasi emisi, penguatan sistem Monitoring, Reporting, and Verification (MRV), hingga pelaksanaan aksi mitigasi pada berbagai sektor prioritas. Dalam jangka panjang, pendekatan tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya low carbon society melalui integrasi prinsip pembangunan rendah karbon ke dalam sistem pembangunan daerah.

Pada saat yang sama, strategi adaptasi perlu ditempatkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah. Keberhasilan adaptasi tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi dari kemampuan berbagai intervensi tersebut dalam mengurangi tingkat kerentanan wilayah dan meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat. Integrasi risiko iklim ke dalam tata ruang, pembangunan infrastruktur, investasi daerah, hingga kebijakan sektoral menjadi langkah penting untuk memastikan pembangunan tetap tangguh dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang.

Forum konsultasi publik ini menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai pemangku kepentingan untuk memperkaya substansi roadmap sehingga mampu menjawab tantangan pembangunan daerah secara lebih komprehensif. Melalui pertukaran perspektif dan pengalaman dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, serta mitra pembangunan, diharapkan dokumen yang dihasilkan tidak hanya selaras dengan arah kebijakan nasional, tetapi juga implementatif dan relevan dengan kebutuhan daerah.

Bagi GREENEVA, membangun daerah yang tangguh terhadap perubahan iklim tidak hanya dimulai dari penyusunan dokumen perencanaan, tetapi dari kemampuan menghadirkan data, perspektif, dan kolaborasi sebagai landasan pengambilan keputusan. Melalui berbagai inisiatif pendampingan, kajian, dan forum strategis, GREENEVA akan terus mendukung lahirnya kebijakan yang mampu menjawab tantangan iklim sekaligus mendorong pembangunan daerah yang rendah karbon, adaptif, dan berkelanjutan.